Tokoh
Nawangwulan. Seorang bidadari cantik dari langit paling atas yang tidak tembus oleh mata manusia. Nawangwulan kebetulan sangat lihai bahasa Indonesia, karena pernah ditugaskan sebagai duta khayangan di Indonesia untuk memberantas nyamuk demam berdarah .Nawang sedang stress berat karena pacarnya Dewa Kancil menikah dengan Ibu kandung Nawang sendiri, hanya gara-gara Ibunya sering masak soup buntut kancil ketika Dewa Kancil berkunjung menjenguk Nawang.
Dewa Kancil. Seorang dewa baru, sebenarnya Dewa Kancil adalah salah satu Presiden Amerika Serikat yang telah meninggal dunia, karena menurut dewa-dewa yang lain si Dewa Kancil alias Kennedy sangat berjasa dalam politik di Amerika, maka diangkatlah menjadi dewa di khayangan sebagai Dewa Kancil, sebab saat ini khayangan masih kekurangan tokoh politiknya, itu kata Dewa Bathara Guru saat diwawancarai oleh Indosiar. Dia pandai bahasa Inggris dan sedikit Indonesia, cerdik, cakep tapi tetep wajahnya tua walaupun jadi dewa.
Joko. Remaja desa yang cukup tampan, karena ketampanannya banyak janda-janda tua nganggur yang tergila-gila padanya.Kulit Joko hitam karena sering bantuin Parto ayahnya mencangkul di sawah serta jualan abu arang di pantai Parangtritis. Dia agak tuli, goblok namun pandai bahasa Inggris karena sering gaul sama turis, seperti pepatah mengatakan “ ya terang saja seleramu berubah karena terlalu lama gaul sama turis ( Jamrud, album kedua ) “.
Parto. Ayah Joko yang ratingnya masih paling tinggi sebagai playboy tua di desa tempat tinggalnya. Sifatnya hampir sama dengan Joko, makanya sekarang banyak lahir bayi-bayi kembar di dunia.
Papi Nawang. Seorang Dewa yang bertugas mengurusi listrik di khayangan dan merangkap sebagai tukang parkir di depan obyek wisata Kawah Candra dimuka. Dia penyabar, bijaksana dan pendiam.
Ibu Nawang. Dia juga seorang bidadari tua. Namun dia merupakan bidadari jenis Playgirl yang doyan kaum tua-tua. Dia bekerja di Pom bensin dekat jalan tol Suralaya dekat rumahnya Bathara Guru, bagian penjaga toilet kalau ada yang kebelet pipis.parasnya sangat cantik, sehingga pom bensin di situ sangat laris, terutama yang mau ke toilet sangat antri.
Sinopsis cerita “ Bidadari Turun Ke Bumi “
Awan tebal tampak mendung. Angin semilir kadang disertai bunyi gelegar halilintar menyambar-nyambar dengan suara menggelegar kerasnya bukan main karena memakai sound system 20.000 Watt. Tiba-tiba dari jauh muncul sekelebat bayangan terbang cepat tak karuan menabrak-nabrak awan. Ternyata dia adalah Dewi Nawangwulan yang baru minggat dari khayangan karena stress. Terlihat samar di balik helm cakilnya karena takut nabrak, air mata menetes deras dari kedua matanya hingga membasahi baju bagian depannya sehingga bagian dalamnya tampak ketat sekali, sangat kelihatan karena basah.
Terbangnya Nawangwulan sangat cepat dan tidak karuan, sehingga tidak menyadari kalau dia lupa tidak memakai sabuk pengaman. Sementara itu dari kejauhan, tampak sebuah pesawat terbang jenis Sukoy sedang terbang melintasi awan yang jalannya satu rute dengan Nawang terbang. Nawang tidak menyadari kalau mereka akan bertabrakan karena Nawang baru stress berat. Sedangkan pilot pesawat juga tidak menyadari kalau akan menabrak seorang bidadari, sebab saat ini sang pilot sedang bercinta dengan pramugarinya di pesawat, pikirnya masa bodoh sebab ini khan di pesawat. Tigapuluh detik lagi maka akan terjadi kejadian besar yang belum pernah ada dalam cerita nyata. Dengan kecepatan mereka yang saling cepat bagaikan vespanya salah satu mahasiswa MSD, melesat tak terkendali. Dan akhirnya……Cuiiiiiiiittttt, Nawang sempat mengerem, namun…….dorrrrr…..dorrrrr..
Akhirnya mereka bertabrakan. Apa yang terjadi saudara-saudara, pesawat Sukoy hancur berkeping-keping, yang tertinggal hanyalah sebuah alat kontrasepsi yang tersangkut di awan. Sedangkan di sisi lain tubuh Nawangwulan terlihat melesat cepat turun ke bumi.
Sementara itu di bumi tepatnya sore hari di pantai Parangtritis.Dua orang lelaki yang tak lain Joko dan Parto ayahnya sedang duduk berdekatan menatap ombak menanti matahari terbenam. Desir angin semilir menerpa wajah mereka. Terdengar sayup-sayup dari mulut mereka sebuah lagu merdu “ kemesraan ini, janganlah cepat berakhir, kemesraan ini, inginku kenang selalu, hatiku damai ….( Iwan Fals )”.
Baru saja terhanyut oleh merdunya suara mereka, tiba-tiba dikejutkan suara teriakan dari atas. Di saat mereka mendongak ke atas, terasa gelap karena ternyata yang tak lain Dewi Nawangwulan jatuh menimpa mereka berdua sehingga pak Parto terpental jauh tersangkut di pohon kelapa yang baru tumbuh.
Waktu berjalan dengan sedikit cepat, sepuluh menit selanjutnya Joko dan Pak Parto hanya saling pandang selanjutnya menatap seorang wanita yang belum tahu cantik apa enggak karena masih tertutup helm cakilnya. Nawang terbaring pingsan di hadapan mereka. Selanjutnya tanpa pikir panjang mereka membawa Nawang ke rumah mereka. Pak Parto yang menduda bersama Joko yang menjaka hanya bisa menunggu Nawang siuman.Tepatnya jam sebelas malam tampak tubuh Nawang mulai bergerak, dia siuman. Spontan Nawang bangkit dari pembaringannya dan dia sangat kaget melihat dua mahkluk asing di depannya. Karena Nawang merasa kaget, Joko dan Pak Partopun merasa kaget dan bersembunyi di kolong tempat tidur. Nawang merasa geli sendiri, lalu lama kemudian mereka saling berkenalan. “ Neng Nawang tidak apa-apa ? “ Tanya Pak Parto. “ Oh…, enggak Pak ?, hanya sedikit gegar otak ?”.
Dalam sekejap mereka sudah saling mengenal dan saling akrab. Bahkan sempat cubit-cubitan. { maaf, kalau percakapannya masih pake bahasa Indonesia, sebab penulis enggak bisa bahasa Inggris }.
Malam itu mereka enggak tidur. Nawang bercerita siapa sebenarnya dia, dan kenapa dengan dia saat ini. Tapi Nawang ingin sekali kembali ke khayangan, sebab sudah di kodratkan kalau bidadari tidak bisa tinggal di bumi. Pak Parto dan Joko menyadari dan memakluminya. “ Wah….kalau kami enggak bisa mengantar Neng Nawang pulang ? “ Ucap Joko.
“ Jangan khawatir, aku masih punya pulsa untuk menelpon Ayahku “ jawab nawang selanjutnya mengambil Hp C45nya dari saku.
“ Papi….ini Nawang. Sekarang Nawang berada di Yogyakarta, tolong jemput ya Papi….????”. Sementara di khayangan papinya Nawangwulan menjawab “ Papi baru bisa menjemput kamu besok pagi, soalnya sedang ngurus surat cerai dengan Ibumu malam ini “.
Waktupun berjalan dengan cepatnya. Pada pagi harinya sebuah pesawat jenis helicopter telah mendarat di pantai parangtritis. Ayah Nawangwulan memeluk erat nawang di hadapan Joko dan Pak Parto.Merekapun ikut-ikutan berpelukan.nampak dari kejauhan sebuah pesawat jenis Garuda Nusantara mini melesat mendarat tak jauh dari mereka. Nawang dan papinya sangat terkejut karena yang datang adalah Dewa Kancil dan istrinya alias Ibu kandung Nawang sendiri.
“ pergi kalian………!!!!” Teriak Nawang.
“ Kami ke sini bukan mau menemui kalian, tapi kami kemari mau berbulan madu di pantai Parangtritis, iya khan Bu???” Ucap Dewa kancil selanjutnya menggandeng istrinya kepantai lalu berkejar-kejaran.
Sementara nawang dan papinya perlahan menaiki helicopternya sambil sesekali memandang dewa Kancil yang sedang asyik berkejaran bermain ombak di pantai Parang tritis. Nawang akhirnya kembali ke khayangan, lambaian tangan Joko dan Pak Parto di sambut oleh Nawangwulan dan papinya.
Siang mulai menyingsing, terik mentari kembali panaskan Parangtritis.Joko dan Pak Parto kembali bersiap aktifkan aktifitas sehari-harinya. Mereka tersenyum tak tahu apa yang sedang terjadi, dan tak paham kalau mereka sedang terjun ke dunia fiksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar