Halaman

Senin, 20 Juni 2011

JIWAKU ADALAH KAKEK

By : 'List
Sebut saja aku Bunga. Ibuku tercinta memberi nama itu padaku ketika selametan tujuh hari kelahiranku. Tepatnya Bunga Merdekawati, nenek dari bapak yang ngasih nama belakangku. Hari ketika aku pulang sekolah hujan belum reda, ember penadah bocor di depan ruang makan terisi hampir penuh.
Mataku memandang ke arah kursi goyang, aku tersenyum ketika melihat wajah nenek dari Ibu yang sudah di makan usia begitu santai mengayunkan kursi goyang peninggalan kakek dari Ibu. Konon ceritanya kakek adalah bekas pejuang ketika Republik ini merebut kemerdekaan. Sejenak aku terhentak sedikit terkejut ketika sebuah ciuman menyentuh pipi kiriku. “ Bunga, ganti baju dulu sana, nanti kamu sakit ? “Itu suara Ibu tercintaku.
Aku kini sangat cantik dengan gaun warna biru tua hadiah ulang tahunku lima tahun yang lalu. Sepoi angin berbisik senada derasnya hujan yang mengguyur tanah kelahiranku, kutatap kebon kacang milik pamanku dari jendela kamar. Rupanya paman ada di gubuk kecil yang terletak di tengah – tengah kebon sembari menghisap cerutu menikmati pisang goreng kiriman dari Ibu, mungkin setengah jam yang lalu.
“ Paman…? “ Aku berteriak sambil melambaikan tangan ke arah paman. “ Paman….? “ sekali lagi kuucapkan itu. Nampaknya hujan sangatlah deras, sehingga pamanku yang baik hati tidak menghiraukanku.
“ Bunga …, embernya di ganti, cucu….? “. Aku sangat kenal suara itu. Aku berlari keluar kamar, sedikit geleng kepala ketika aku dapatkan air di ember penadah bocor telah meluap. Cepat – cepat aku ganti dengan ember yang baru, takut terjadi banjir di ruang makan.
Kuhentikan sejenak mengepel lantai bekas tumpahan air hujan dari ember penadah bocor yang meluap ketika terlihat nenek tiba – tiba batuk.
“ Nek, Bunga ambilin minum ya ? “ Aku berlari ke dapur menemui Ibu. Tak salah dugaanku kalau pisang goreng yang di suguhkan paman adalah kiriman dari Ibu. Aku ambil segelas air putih yang masih hangat dari termos.” Sayang, sekalian bawakan nenek pisang goreng ya ?”. Aku mengangguk selanjutnya mengantarkan minum dan pisang goreng ke arah nenek. “ Makasih cucu ?” nenek menghembuskan nafas lega setelah meneguk air hangat. “ Bagaimana sekolah kamu “ Aku duduk di dekat nenek sambil memijit tangan nenek yang keriput agak kasar. “ Baik, Nek ?” Kataku.
“ Jaman sekarang sudah berubah cucuku, kamu harus bisa memahami perubahan itu. Hargailah setiap ilmu yang kamu peroleh, ambil dan resap semampu kamu. Enak sekali anak sekolah jaman sekarang, tidak seperti jamannya nenek dulu, baju satu untuk bergantian, makan sudah bersyukur kalau lauknya tempe. Sekolah sampai kelas empat SD sudah anugerah yang begitu tinggi “ Nenek kembali goyangkan kursinya sambil membelai rambutku. Pandanganku tertuju wajah nenek yang begitu polos, penuh kejujuran dan sangatlah tua. “ Nek ?, kakek dulu seorang pejuang ya ?” Aku beranjak manja duduk di pangkuan nenek.
Selintas senyum nenek mengiringi sikap manjaku bersarang di pangkuannya. Kurangkul tubuh nenek seperti halnya sepasang kekasih yang telah lama berpisah kini bertemu kembali. “ Kamu sudah mandi apa belum ? “Ucap nenek sembari mencubit pipi kiriku. “ Belum, Nek ? “ Jawabku kolokan, mataku melirik manja.
“ Ayo Nek ?, cerita dong tentang kakek ? “ Kembali aku membuka pertanyaan kepada nenek. Sepintas muka nenek memerah, pandangannya lepas ke arah foto kakek yang terpampang di atas kabinet mungil tempat televisi hitam putih berada. Aku sudah kelas tiga SMA, sewajarnya aku bisa merasakan betapa rindunya nenek akan kakek. Kuusap rambut nenek yang telah memutih dengan pelan, sesekali terdengar gelegar halilintar diiringi desir angin sore yang santun. “ Maafkan Bunga ya Nek ? “ Aku  merasa bersalah, takut menyinggung perasaan nenek. “ Coba ambilkan foto kakekmu, cucu “ ucapan nenek mendorong aku untuk mengambil foto kakek yang tak jauh dari kami duduk. Pelan aku kembali menuju nenek. Foto kakek aku berikan padanya dengan perasaan bersalah yang masih bersarang dalam hatiku. Kembali aku perlahan duduk di pangkuan nenek, kupeluk sembari ikut pandangi wajah kakek tahun 70-an dalam album kenangan.
Sedikit terasa lega ketiga terbersit senyum manis dari rona nenek. “ Kakekmu itu sangat hebat. Nenek sudah kenal kakek sewaktu kakekmu masih semuda kamu, awalnya ketika nenek masih menjadi kembang desa di sini dulu,…”. “ Apa, nenek dulu jadi playgirl ya ?, wah pantes aja aku cantik ?, terus gimana, Nek “ Selaku semakin manja.
“ banyak pemuda yang tergila – gila pada nenek, sampai eyang buyutmu bingung cari pasangan yang tepat buat nenek. Kakekmu dibanding mereka sangatlah jauh, cucu ? “.
“ Kakek dulu orang miskin ya, Nek ? “ Tanyaku sembari usap rambut nenek. Nenek tersenyum manis padaku. “ Pelajaran juga buat kamu, kelak kalau kamu sudah dewasa janganlah derajad sebagai ukurannya. Benar cucu, kakekmu dulunya adalah anak tukang peras susu sapi buat penjajah Jepang. Tapi setiap kakekmu mengantar susu ke markas Jepang, beliau selalu menyisihkan untuk teman seperjuangannya, dan mencampur susu asli dengan air agar masih terlihat penuh. Sehingga pada suatu hari sifat ahklak mulia dari kakek kandas oleh penghianatan sahabat kakek. Kakekmu di tangkap selanjutnya di siksa oleh Jepang. Setelah satu tahun mendekam di penjara Jepang, kakekmu di lepas lagi. Namun Rasanya ketangguhan jiwa patriot kakekmu tidak mengurangi niat beliau untuk mengabdikan jiwa raganya merebut kemerdekaan Republik ini “.
Sebentar nenek menghela nafas panjang. Ia teguk kembali air yang sudah mulai dingin, hujan mulai rintik – rintik. “ kakekmu beralih profesi sebagai juru masak buat teman - teman seperjuangannya. Cucu, di sinilah awal rasa simpatik nenek kepada kakekmu. Nenek pernah secara tidak sengaja mengintip kakekmu ketika sedang masak sendirian, waktu itu dana sumbangan untuk pejuang telah di rampas oleh Jepang, sehingga tidak ada bahan yang akan di masak selama seminggu. Para juru masakpun sudah segan lagi dengan tidak adanya upah. Nenek sangat terkejut ketika kakekmu menjatuhkan diri di lantai dapur, terdengar sayup – sayup tangisannya memilukan hati nenek. Perlahan nenek dekati kakek, lalu nenek duduk di dekat kakekmu, cucu ?”.
“Sepertinya kakekmu tahu akan kedatangan nenek. Beliau berkata “ Apakah perjuangan bangsa ini merebut kemerdekaan akan berhenti begitu saja dengan hal sepele semacam ini ?”. Nenek sedikit takut ketika kakekmu memandang nenek dengan mata sayu. “ Kamu mengerti kata – kataku kan ?, mereka yang telah siap merebut kemerdekaan, telah siap mengorbankan titik darah terakhir, hari ini dan seterusnya harus kelaparan hanya karena perbuatan penjajah yang telah merampas hak kami. Tidak……. ini tidak boleh terjadi ! “ Nenek takut sekali mendengar ucapan lantang dari kakekmu yang telah berdiri tegap di hadapan nenek.
Satu hari setelah kejadian itu, kembali nenek menemui kakek yang sedang sibuk memasak sendirian.Kami duduk di kursi anyaman bambu yang hampir rapuh.
“ Aku jual ketiga sapi peninggalan orang tuaku “ Ucapan kakekmu itu membuat nenek jatuh cinta. Cucu, dari situlah nenek dan kakek akhirnya mulai menjalin kasih, tiga bulan dari kisah itu selanjutnya kami menikah. Kami sangat bahagia, sehingga dikaruniai empat orang anak. Ibumu itu yang paling ragil ?, setelah kelahiran Ibumu itulah awal mula nenek harus melepas kepergian kakekmu. Perpisahan yang sangat menyedihkan namun juga sangat membanggakan Cucu ? “. Nenek menghentikan ceritanya sebentar, suasana hening terasa mencekam, hujan sudah mulai reda, terbersit dari telingaku suara isak tangis nenek pelan. “ Nek, nenek kenapa ?, maafkan Bunga Nek ? “ Aku merasa takut melihat nenek tidak biasanya mengangis.
“ Cucuku ?, kamu enggak bersalah, sudah sepantasnya gadis seusiamu mendengarkan cerita dari nenek mengenai kakekmu. Kamu harus bisa mencontoh sifat tangguh dan kemuliaan hati serta rasa tulus ikhlas yang di miliki kakekmu dulu.Terapkanlah ini dalam kehidupanmu. Bangsa ini memang sudah merdeka, namun tugas kita mempertahankan kemerdekaan sampai kapanpun tidak akan pernah ada batasnya, mengerti kan cucu ? “.
Kusapu air mata yang menetes di pipi nenek dengan tangan kananku. Sepintas nenek tersenyum padaku. Lonceng jam di ruang tamu berbunyi empat kali memecahkan kesunyian sore itu. Masih terdengar gelegar halillintar sesekali, hembusan angin dingin menerpa tubuhku sehingga kurasakan kesejukan dalam jiwaku.
“ Waktu itu Ibumu berumur tiga bulan “ Aku kembali memandang nenek ketika nenek mulai meneruskan ceritanya. “ pada suatu malam, dan ini malam terakhir antara nenek dan kakekmu, Cucu ?, nenek mendekati kakekmu yang sedang sibuk mengemasi senjata dan perlengkapan lainnya, beliau berkata “ Bu, besok pagi – pagi sekali aku akan merintis kemerdekaan, inilah awal perjuanganku untuk merebut kemerdekaan, kita harus cepat – cepat merdeka, jaga si Ratna, Ningsih, Joko dan si Tarsih baik – baik ya Bu ?, sebab peluang aku untuk kembali sangatlah kecil, karena yang kurasakan perjuangan besok antara hidup dan mati “. Mendengar ucapan itu nenek tak kuasa untuk memeluk  kakekmu, malam itu kami tidak bisa tidur, ibumu yang masih berumur tiga bulan nangis terus, kakekmu yang nimang – nimang, Cucu ? “.
Kembali nenek meneteskan air matanya. Kuambilkan air putih yang tinggal seperempat gelas di meja kecil depan kami duduk kepada nenek. Setelah meneguknya nenek terasa lega, diapun meneruskan ceritanya.
“ Jam empat pagi, sebuah bunga melati terselip di telinga kanan nenek. Nenek terperanjat, ternyata tadi nenek sempat ketiduran. Ketika nenek sudah bangun kakekmu dan perlengkapannya sudah tidak ada, Mas Wongso……., Begitulah nenek berteriak keras, sehingga ketiga kakak dari Ibumu bangun dan memeluk nenek. Kakekmu pagi itu sedang berperang, Cucu ?, dua hari setelah malam itu ketika nenek sedang membersihkan kandang ayam, tiba – tiba Prawiro temen kakekmu beserta sekitar tiga puluhan pejuang lainnya dengan wajah lesu menghampiri dan mengatakan kepada nenek “ Mbakyu, maafkan kami.  Mas Wongso tidak bisa pulang untuk selama – lamanya “, nenek tatap wajah Prawiro dengan mata terkejut, badan nenek saat itu juga terasa sangat lemas, air mata yang tak terbendung lagi menetes dari kedua mata nenek.
“ Mbakyu, kalau tidak ada Mas Wongso, kami semua yang tersisa ini tidak akan bisa kembali, saat itu kami sudah berada di ujung tanduk, andai saja kami meneruskan menyerang itu pasti sia – sia dan mati. Sebaliknya, andai saja kami mundur, itupun akan sia – sia dan mati. Pasukan Jepang telah mengepung kami. Sebuah hal yang tidak kami duga, tiba – tiba dari arah barat dan menuju pasukan Jepang yang mengepung kami, Mas Wongso berlari kencang. Sebuah ledakan hebat disertai ucapan  lantang “Merdeka….. “ dari Mas Wongso menggetarkan bumi tempat kami Republik ini. Mbakyu, Mas Wongso membawa bom bunuh diri yang ia curi dari Jepang sewaktu dulu dia di penjara. Tentara Jepang banyak yang mati, kamipun terselamatkan. Mbakyu, kami berjanji akan terus meneruskan perjuangan Mas Wongso. Beliau adalah semangat jiwa kami, ketangguhan jiwa dan rasa tulus ihklas untuk benar – benar merebut kemerdekaan yang tertanam begitu mulia dari Mas Wongso akan menjadi dorongan kuat bagi kami untuk tetap terus mencapai kemerdekaan sampai titik darah penghabisan “, itulah ucapan Prawiro beserta teman seperjuangan kakekmu, Cucu ?. Nenek sangat bangga akan kakekmu, ahklaknya begitu mulia, beliau tidak menghiraukan nyawa sendiri demi kemerdekaan ini, dan itu tertanam semenjak kakekmu masih remaja, ketika masih sebagai tukang peras susu sapi. Itulah riwayat hidup kakekmu, Cucu ?”.
Ku ambil foto kakek yang berada di tangan nenek perlahan, lalu kupeluk erat foto itu dalam dekapanku. “ Kamu menangis, Cucu ? “ Ucapan nenek membuat aku salah tingkah. Dalam linangan air mata aku menyambut senyuman nenek. Sebuah sapuan kasar namun lembut menyentuh kedua mataku. Perlahan kurebahkan kepalaku di tubuh nenek.
“ Itulah sebabnya nenek memberimu nama Merdekawati. Nama yang sangat indah, nama yang mengandung arti istimewa. Bunga dari kemerdekaan Republik Indonesia. Nenek berharap jiwa kakekmu menyatu dalam jiwamu. Jadilah anak bangsa yang rendah hati, kamu harus bisa mencontoh padi, Cucu ?, semakin buahnya berisi semakin pula padi itu merunduk. Tetaplah menjadi anak bangsa yang tangguh dan mempunyai ahklak mulia, siapa lagi yang akan mempertahankan kemerdekaan ini kalau bukan anak – anak sepertimu, perjuangan belumlah berakhir cucuku ? “.
Jantungku berdetak kencang mendengarkan nasehat yang begitu berharga dari nenekku. Terbersit niatku untuk menjadikan nasehat nenek sebagai Sabda Pandhita Ratu, nasehat yang penuh kejujuran dan takkan bisa berubah sesuai perkembangan jaman.
Aku bangga menjadi anak Indonesia yang tangguh dan berahklak mulia, aku yakin akan bisa meneruskan perjuangan kakekku. Akan aku jadikan prasasti dalam perjalanan hidupku setiap perjuangan yang pernah kakek berikan untuk bangsa ini. Aku yakin, aku pasti mampu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar